
OKU TIMUR – Kemeriahan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 terasa kental di wilayah Kecamatan Belitang II. Ratusan umat Hindu memadati Lapangan Sepakbola Desa Kelirejo untuk melaksanakan Pawai Ogoh-Ogoh yang dihadiri langsung oleh Bupati OKU Timur, Ir. H. Lanosin, S.T., M.T., M.M., pada Selasa (17/03/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB ini menampilkan sedikitnya 13 buah Ogoh-Ogoh dari lima desa adat, yakni Desa Darma Buana, Tegal Besar, Kelirejo, Karang Manik, dan Suka Jaya. Sekitar 1.000 warga tampak antusias menyaksikan atraksi budaya dan keagamaan ini.
Dalam sambutannya, Bupati OKU Timur yang akrab disapa Enos memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan tari-tarian kreasi dan kekompakan warga. Ia menekankan pentingnya menjaga kerukunan, mengingat perayaan Nyepi tahun ini bertepatan dengan penghujung bulan suci Ramadhan.
”Sudah dua tahun ini festival Ogoh-Ogoh berbarengan dengan bulan puasa. Saling menghormati antaragama sangat penting dan harus tetap kita jaga. Semoga dengan Hari Raya Nyepi dan ibadah puasa ini, kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi demi OKU Timur yang Maju Lebih Mulia,” ujar Bupati Enos di hadapan tamu undangan dan tokoh lintas agama yang hadir.

Senada dengan itu, Kapolsek Belitang II, IPTU Toni Aji, S.H., M.H., CPHR, memastikan bahwa seluruh rangkaian acara berjalan dengan aman dan tertib. Pengamanan dilakukan secara maksimal oleh personel gabungan dari Polsek Rayon II Polres OKU Timur, Koramil Belitang II, Dishub, Satpol PP, Linmas, Banser, hingga Pecalang.
”Sesuai perintah pimpinan, kami hadir untuk menjamin keamanan dan kenyamanan umat Hindu dalam beribadah. Setelah acara di lapangan selesai, personel kami juga melakukan pengaturan lalu lintas untuk mengawal Ogoh-Ogoh yang diarak kembali ke desa masing-masing agar tidak terjadi kemacetan,” jelas IPTU Toni Aji.
Acara yang diwarnai dengan pemukulan gong dan pemotongan pita oleh Bupati ini berlangsung khidmat. Selain memberikan dukungan moril, Bupati Lanosin juga memberikan bantuan dana untuk menyukseskan pelaksanaan kegiatan tersebut.
Seluruh rangkaian kegiatan berakhir pada pukul 17.30 WIB dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif. Ogoh-Ogoh yang telah dikumpulkan di lapangan selanjutnya dibawa kembali ke desa masing-masing untuk dilakukan prosesi pembakaran sebagai simbol pembersihan diri dan alam semesta.






